Hai hai....
Kali ini aku mau ngepos cerita lagi, dan lagi lagi sebenernya ini tugas Bahasa Indonesia :P
Judulnya "Hari Ini"
Enjoy....
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kali ini aku mau ngepos cerita lagi, dan lagi lagi sebenernya ini tugas Bahasa Indonesia :P
Judulnya "Hari Ini"
Enjoy....
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari Ini
“Katalis adalah zat yang ditambahkan ke
dalam suatu reaksi dengan maksud untuk mempercepat terjadinya reaksi kimia pada
suhu tertentu tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu
sendiri....”
Haaah.... pelajaran ini sungguh
membunuhku. Sementara aku menopang dagu karena bosan, banyak temanku yang malah
memperhatikan dengan serius. Aku tak pernah benar-benar mengerti apa yang
mereka—guru-guru kimia katakan. Pada akhirnya aku harus bertanya kepada teman
temanku untuk mengerti maksud akan setiap kalimat itu.
Kualihkan pandangan ke luar jendela.
Kulihat sahabatku dari kelas sebelah sedang bermain bulutangkis disana. Dengan
kaos berwarna merah dan keringat bercucuran, dia terlihat gagah.
Mata kami tertumbuk. Dia melambaikan
tangannya dan tertawa padaku. Aku hanya membalas dengan senyum tipis. Memoriku
melayang ke masa lalu. Saat dimana kami pertama kali benar-benar mengerti dan
mengenal satu sama lain.
Ketika itu jam sudah menunjukkan pukul
lima sore. Aku sedang duduk sendirian di kelas yang kosong. Sekosong hati dan
pikiranku. Pikiranku sedang melayang layang tak tentu, menjelajahi otakku
sendiri. Tiba-tiba seseorang memasuki kelas. Seorang laki-laki dengan nafas
terenggah-enggah karena datang dengan berlari. Ketika dia melihatku, alisnya terangkat
sebelah. Mungkin dia heran karena aku tidak menyadari kedatangannya, walaupun
sebenarnya aku sadar.
Perlahan dia mendekatiku. Aku menoleh
padanya, tetap dengan mata kosong. Dia berhenti dan menatapku.
“Hei, kau kenapa?”
“.....tidak apa-apa.”
“Ayolah, matamu itu sangat mengerikan.”
“Aku....”
“Masalah keluarga? Pacar?”
“Kedua.”
“Pacar ya. Hm, cinta....” dia menghela
nafas, “cinta itu seperti aliran sungai, terkadang mengalir dengan tenang,
jernih, dan lurus. Tapi sering kali berliku-liku dan tak jarang menuruni lembah
curam. Bahkan sering kali menabrak bebatuan cadas. Dengan cinta yang seperti
itu, wajar saja kalau kau mengalami hal yang menyakitkan. Hei, menabrak batu
itu menyakitkan, lho!” dia tertawa
sendiri, lalu melanjutkan, “kau putus dengan pacarmu?”
Aku hanya memandanginya yang melihatku
dengan lembut tetapi antusias. Aku berpikir, kenapa orang ini sangat tertarik?
Maksudku, hei! Kami bahkan hanya mengenal satu sama lain sebatas nama. Tetapi
melihat matanya yang tersenyum padaku, aku akhirnya mengangguk.
“Ingin kubantu?? Kau tahu, karena
kepiawaian dan kredibilitasku dalam mempercepat reaksi antara Sang Pecinta dan
yang dicintainya itulah, maka teman-teman dan orang orang sekelilingku
menjulukiku sebagai Miss
Katalisator!”
“Apa kau bilang? Miss?”
“Ya, Miss Katalisator! Bisa kau
bayangkan itu??”
Mau tak mau, aku tersenyum simpul.
Percakapan kami berlanjut, dan mulai saat itulah aku dekat dengannya. Saat aku
mempunyai masalah, dia akan datang membantuku, begitu juga sebaliknya.
Pikiranku kembali pada dunia nyata. Bel
sudah berbunyi, sudah saatnya pelajaran ini berakhir. Sendirian, aku pergi ke
kantin yang berada di belakang gedung sekolah. Kantin yang berada di bawah
kelas dua belas dan bercat kuning itu mengingatkan aku pada rumah Ari—nama
sahabatku, yang juga bercat kuning.
Saat membawa piring berisi beberapa
makanan yang kubeli tadi, aku merasa pundakku ditepuk. Ketika menoleh, kudapati
senyum Ari disana. Dia menenteng sebotol air mineral yang masih terisi
setengahnya.
“Duduk di sebelah sana saja. Masih kosong,
tuh.”
Aku menurut saja ketika dia menggiringku
ke meja yang tidak berpenghuni. Dia menghempaskan badannya ke kursi di depanku.
Tanpa mengatakan apa-apa, aku mulai memakan kue yang kubeli tadi.
“Hei, kau tahu hari apa ini??”
“Selasa.”
“Bukan itu...” dia menepuk dahinya dan
menggelengkan kepala. “Hari ini adalah hari dimana Bom Nagasaki dijatuhkan pada
tahun 1945!” dia bersiap-siap memasang wajah melankolisnya. “Bom atom
meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki.... Walaupun memiliki nama yang lucu little boy dan fat man, namun efek yang diakibatkan tidak selucu namanya. Bom
itu—“
“Ri, sudahlah. Minumlah airmu dengan
tenang.”
“Hei, aku hanya ingin bicara. Kau tidak
ingin aku bicara?” dia berkata sambil pura-pura memperlihatkan mata yang
berkaca-kaca. Kurasakan mukaku memanas.
“Hahaha, mukamu memerah! Yang benar
saja, hahaha!” dia tertawa sambil memegangi perut ratanya. Apa aku selucu itu?
Aku hanya memutar bola mata dan melanjutkan makanku.
Aku terbiasa pulang bersama dengan Ari, dan sore ini dia ada jadwal latihan bulutangkis. Akhirnya aku
memutuskan untuk menunggunya di kelas dan melihatnya berlatih dari sini.
Sebenarnya dia sudah memintaku untuk pulang tanpa menunggunya, tapi aku malas
pulang. Di rumah juga aku tidak punya hal untuk dilakukan.
Ari. Sahabatku.
Apa iya? Apa iya perasaan ini hanya
sekadar sahabat?
Sebenarnya aku sudah mulai mempunyai
perasaan khusus padanya sejak pertama kali bertemu dulu. Lalu, satu tahun yang
lalu kami mulai akrab. Aku benar-benar senang bukan kepalang. Tapi sayang....
Aku tidak bisa menyatakan perasaanku padanya. Sekeras apapun aku mencoba. Aku tidak berani kehilangan dia sebagai sahabat. Aku memakai topeng sahabat agar bisa dekat dengannya. Mengerikan, ya?
Aku tidak bisa menyatakan perasaanku padanya. Sekeras apapun aku mencoba. Aku tidak berani kehilangan dia sebagai sahabat. Aku memakai topeng sahabat agar bisa dekat dengannya. Mengerikan, ya?
Aku terus memikirkan hal itu sampai Ari selesai dari latihannya dan kembali ke kelas dimana aku menunggunya
sendiri. Seperti biasa, dia datang dengan nafas terenggah-enggah karena berlari
dan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Dia menyambar tasnya, mengulurkan
tangannya padaku dan tersenyum.
“Ayo, kita pulang!”
Hatiku berdegup kencang. Aku hanya bisa
duduk mematung, dengan kepala menunduk. Kurasakan keringat dingin mengalir
menuruni leherku. Aku menghela nafas, dan akhirnya membulatkan tekad.
“Ri....”
“Ya, ada apa?”
“Sebenarnya, aku...” aku terdiam.
“Ada apa? Kau punya masalah lagi?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin mengatakan satu hal,
yang dari dulu ingin kukatakan, tetapi tidak bisa.”
“Apa itu? Katakanlah.”
“Aku sebenarnya... menyukaimu.”
Aku melirik Ari. Matanya membulat
karena kaget. Kini kami berdua mematung karena tidak tahu harus berbuat atau
berkata apa. Beberapa menit berlalu, dan Ari akhirnya buka suara. Aku
menahan nafas karena takut akan apa yang akan dikatakannya.
“O, oke. Ehem. Begini. Aku, Ari Hadzar, adalah sahabatmu, bukan?”
“Ya....” aku menyahut lemah.
“Bukankah aneh jika kita menjalin
hubungan?”
“Apa salahnya? Banyak orang diluar sana,
mereka sepasang sahabat, tapi akhirnya menjalin hubungan juga.” aku menjawab dengan leher tercekat.
“Tapi, kau tahu? Kita tidak
ditakdirkan—dari awal untuk bersama. Aku tahu kau pasti sangat mengerti itu. A—aku masih bisa menjadi sahabatmu untuk selanjutnya. Tapi, maaf,” dia menghela
nafas, “mungkin tidak akan seperti sebelumnya. Aku sangat minta maaf.” dia
berbalik, berjalan meninggalkanku. Aku ingin, sangat ingin menangis. Tapi tidak
disini. Tidak. Tidak...
Tapi akhirnya aku menangis juga.
Hari ini, aku—Anugrah Mahardhika, jatuh
untuk kedua kalinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar