Minggu, 02 Februari 2014

First Post: Rawi Enes

Ehem. My first time to make a post in this blog. I don't know how to be a blogger, actually. But I'll try


Buat pertama kali ini, aku ga tau mo ngepos apa. Aku ga tau gimana caranya masukin gambar, masukin link, dll. Anyone? :|

Yasuda, akhirnya aku memutuskan buat ngepos cerpen tugas Bahasa Indonesia aja, heheh.
Judulnya Rawi Enes. Rada rada abstrak gimana gitu :| enjoy :|
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Butir pasir melesak
Memenuhi sela jari kaki

Bentang tangan melebar
Sapa angin, sapa rindu
Jauh terlihat cakrawala mengerling
Menggoda, menusuk jiwa....


            Sore ini aku merasakan matahari tenggelam lebih cepat dari biasanya. Sinar jingganya membanjiri wajahku yang tersenyum. Sangat menentramkan.
Aku berlari-lari dalam kejaran ombak yang menyapu pantai. Bermain pasir, bermain air, bermandi cahaya. Hanya sendiri, disini. Ada kalanya aku menginginkan seorang teman untuk kuajak bercengkrama tentang indahnya tempat ini. Tapi aku tidak sudi ada orang lain yang menapakkan kakinya di kerajaanku satu satunya ini.
Disini senja berlangsung sangat lama, karena aku menginginkan untuk terjadi demikian. Ini kerajaanku, aku bebas menentukan apa saja yang akan terjadi disini. Aku tak sudi malam turun dengan cepat, menggantikan jingga kesayanganku. Menyeruakkan hadirnya dewi purnama yang telah menjatuhkan dewa suryaku. Aku tak suka.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada disini. Pun tidak aku tahu siapa diriku sebenarnya. Aku menamai diriku “Dewi Rawi Enes”, yang berarti Dewi Matahari. Dewi yang sendiri.

Rawi Enes kang jejulukan Gardapati
Lelampahan ing indurasmi

Darun ing udaka
Inggil ing cipta
Reruntuhanipun saya cedak
Ing jiwa awang-awang


            Kejatuhanku sudah dekat. Aku merasa tidak akan lama lagi berada disini. Ketenanganku terusik. Banyak goncangan yang sudah kurasakan. Duniaku akan runtuh.
            Memikirkan bahwa duniaku akan runtuh membuatku marah. Marah sejadi-jadinya. Apa yang kau inginkan, hah?! Aku penguasa disini, dan kau tak berhak mengambil apa yang menjadi satu satunya milikku!
            Secara spontan, aku berlari-lari dan menendang pasir pasir yang membentang dihadapanku dengan emosi tinggi. Saat emosiku sudah mencapai puncaknya, tiba tiba aku mendengar suara. Suara itu berasal dari langit, tepat diatas bumi yang kupijak. Suara itu menenangkanku. Suara itu mengajakku untuk kembali.
            Kembali? Kembali kemana? Bukankah ini tempat dimana aku berasal?
            Aku menelengkan kepala, terheran-heran. Tetapi suara itu terus saja memanggilku. Tak sadar, ada seberkas cahaya terang yang menyobek indahnya jinggaku sore ini. Aku berjalan ke arahnya, dan secara perlahan, duniaku mulai kabur. Menghilang.
            Kini aku tidak lagi berada di duniaku. Kulihat seorang disana, berbalut masker dan jubah hijau. Aku sedang berbaring, dengan banyak selang memenuhi tubuhku.

Dewi Rawi Enes
Membiru dalam asa

Melebur dalam rasa
Sentuh sukma
Melayang pandang
Berpulang pada Esa

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar