Rabu, 19 Maret 2014

Blade Redlight

"I am trying to not make any trouble in this way. 

I am trying to let everything go. 

I am trying to just keep silence and watch everything flow.

I am trying to cover this hole without bother her.

I know it needs so many sacrifice from the other to cover my whole hole.

I dont give a damn about them.

Everything I know is that I am here alone for real.

I have to solve it myself, with so many presure from my surround.

I dont even know how did I do that all.


No breath. No even life." __ Blade Redlight, The Mist of Redlight Clan

Selasa, 04 Februari 2014

Hari Ini: The Epic Twister

Hai hai....
Kali ini aku mau ngepos cerita lagi, dan lagi lagi sebenernya ini tugas Bahasa Indonesia :P
Judulnya "Hari Ini"
Enjoy....
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari Ini


“Katalis adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan maksud untuk mempercepat terjadinya reaksi kimia pada suhu tertentu tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri....”

Haaah.... pelajaran ini sungguh membunuhku. Sementara aku menopang dagu karena bosan, banyak temanku yang malah memperhatikan dengan serius. Aku tak pernah benar-benar mengerti apa yang mereka—guru-guru kimia katakan. Pada akhirnya aku harus bertanya kepada teman temanku untuk mengerti maksud akan setiap kalimat itu.

Kualihkan pandangan ke luar jendela. Kulihat sahabatku dari kelas sebelah sedang bermain bulutangkis disana. Dengan kaos berwarna merah dan keringat bercucuran, dia terlihat gagah.

Mata kami tertumbuk. Dia melambaikan tangannya dan tertawa padaku. Aku hanya membalas dengan senyum tipis. Memoriku melayang ke masa lalu. Saat dimana kami pertama kali benar-benar mengerti dan mengenal satu sama lain.

Ketika itu jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku sedang duduk sendirian di kelas yang kosong. Sekosong hati dan pikiranku. Pikiranku sedang melayang layang tak tentu, menjelajahi otakku sendiri. Tiba-tiba seseorang memasuki kelas. Seorang laki-laki dengan nafas terenggah-enggah karena datang dengan berlari. Ketika dia melihatku, alisnya terangkat sebelah. Mungkin dia heran karena aku tidak menyadari kedatangannya, walaupun sebenarnya aku sadar.

Perlahan dia mendekatiku. Aku menoleh padanya, tetap dengan mata kosong. Dia berhenti dan menatapku.

“Hei, kau kenapa?”

“.....tidak apa-apa.”

“Ayolah, matamu itu sangat mengerikan.”

“Aku....”

“Masalah keluarga? Pacar?”

“Kedua.”

“Pacar ya. Hm, cinta....” dia menghela nafas, “cinta itu seperti aliran sungai, terkadang mengalir dengan tenang, jernih, dan lurus. Tapi sering kali berliku-liku dan tak jarang menuruni lembah curam. Bahkan sering kali menabrak bebatuan cadas. Dengan cinta yang seperti itu, wajar saja kalau kau mengalami hal yang menyakitkan. Hei, menabrak batu itu menyakitkan, lho!” dia tertawa sendiri, lalu melanjutkan, “kau putus dengan pacarmu?”

Aku hanya memandanginya yang melihatku dengan lembut tetapi antusias. Aku berpikir, kenapa orang ini sangat tertarik? Maksudku, hei! Kami bahkan hanya mengenal satu sama lain sebatas nama. Tetapi melihat matanya yang tersenyum padaku, aku akhirnya mengangguk.

“Ingin kubantu?? Kau tahu, karena kepiawaian dan kredibilitasku dalam mempercepat reaksi antara Sang Pecinta dan yang dicintainya itulah, maka teman-teman dan orang orang sekelilingku menjulukiku sebagai Miss Katalisator!”

“Apa kau bilang? Miss?”

“Ya, Miss Katalisator! Bisa kau bayangkan itu??”

Mau tak mau, aku tersenyum simpul. Percakapan kami berlanjut, dan mulai saat itulah aku dekat dengannya. Saat aku mempunyai masalah, dia akan datang membantuku, begitu juga sebaliknya.

Pikiranku kembali pada dunia nyata. Bel sudah berbunyi, sudah saatnya pelajaran ini berakhir. Sendirian, aku pergi ke kantin yang berada di belakang gedung sekolah. Kantin yang berada di bawah kelas dua belas dan bercat kuning itu mengingatkan aku pada rumah Ari—nama sahabatku, yang juga bercat kuning.

Saat membawa piring berisi beberapa makanan yang kubeli tadi, aku merasa pundakku ditepuk. Ketika menoleh, kudapati senyum Ari disana. Dia menenteng sebotol air mineral yang masih terisi setengahnya.

“Duduk di sebelah sana saja. Masih kosong, tuh.”

Aku menurut saja ketika dia menggiringku ke meja yang tidak berpenghuni. Dia menghempaskan badannya ke kursi di depanku. Tanpa mengatakan apa-apa, aku mulai memakan kue yang kubeli tadi.
“Hei, kau tahu hari apa ini??”

“Selasa.”

“Bukan itu...” dia menepuk dahinya dan menggelengkan kepala. “Hari ini adalah hari dimana Bom Nagasaki dijatuhkan pada tahun 1945!” dia bersiap-siap memasang wajah melankolisnya. “Bom atom meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki.... Walaupun memiliki nama yang lucu little boy dan fat man, namun efek yang diakibatkan tidak selucu namanya. Bom itu—“

“Ri, sudahlah. Minumlah airmu dengan tenang.”

“Hei, aku hanya ingin bicara. Kau tidak ingin aku bicara?” dia berkata sambil pura-pura memperlihatkan mata yang berkaca-kaca. Kurasakan mukaku memanas.

“Hahaha, mukamu memerah! Yang benar saja, hahaha!” dia tertawa sambil memegangi perut ratanya. Apa aku selucu itu? Aku hanya memutar bola mata dan melanjutkan makanku.

Aku terbiasa pulang bersama dengan Ari, dan sore ini dia ada jadwal latihan bulutangkis. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya di kelas dan melihatnya berlatih dari sini. Sebenarnya dia sudah memintaku untuk pulang tanpa menunggunya, tapi aku malas pulang. Di rumah juga aku tidak punya hal untuk dilakukan.

Ari. Sahabatku.

Apa iya? Apa iya perasaan ini hanya sekadar sahabat?

Sebenarnya aku sudah mulai mempunyai perasaan khusus padanya sejak pertama kali bertemu dulu. Lalu, satu tahun yang lalu kami mulai akrab. Aku benar-benar senang bukan kepalang. Tapi sayang....
Aku tidak bisa menyatakan perasaanku padanya. Sekeras apapun aku mencoba. Aku tidak berani kehilangan dia sebagai sahabat. Aku memakai topeng sahabat agar bisa dekat dengannya. Mengerikan, ya?

Aku terus memikirkan hal itu sampai Ari selesai dari latihannya dan kembali ke kelas dimana aku menunggunya sendiri. Seperti biasa, dia datang dengan nafas terenggah-enggah karena berlari dan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Dia menyambar tasnya, mengulurkan tangannya padaku dan tersenyum.

“Ayo, kita pulang!”

Hatiku berdegup kencang. Aku hanya bisa duduk mematung, dengan kepala menunduk. Kurasakan keringat dingin mengalir menuruni leherku. Aku menghela nafas, dan akhirnya membulatkan tekad.
“Ri....”

“Ya, ada apa?”

“Sebenarnya, aku...” aku terdiam.

“Ada apa? Kau punya masalah lagi?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin mengatakan satu hal, yang dari dulu ingin kukatakan, tetapi tidak bisa.”

“Apa itu? Katakanlah.”

“Aku sebenarnya... menyukaimu.”

Aku melirik Ari. Matanya membulat karena kaget. Kini kami berdua mematung karena tidak tahu harus berbuat atau berkata apa. Beberapa menit berlalu, dan Ari akhirnya buka suara. Aku menahan nafas karena takut akan apa yang akan dikatakannya.

“O, oke. Ehem. Begini. Aku, Ari Hadzar, adalah sahabatmu, bukan?”

“Ya....” aku menyahut lemah.

“Bukankah aneh jika kita menjalin hubungan?”

“Apa salahnya? Banyak orang diluar sana, mereka sepasang sahabat, tapi akhirnya menjalin hubungan juga.” aku menjawab dengan leher tercekat.

“Tapi, kau tahu? Kita tidak ditakdirkan—dari awal untuk bersama. Aku tahu kau pasti sangat mengerti itu. Aaku masih bisa menjadi sahabatmu untuk selanjutnya. Tapi, maaf,” dia menghela nafas, “mungkin tidak akan seperti sebelumnya. Aku sangat minta maaf.” dia berbalik, berjalan meninggalkanku. Aku ingin, sangat ingin menangis. Tapi tidak disini. Tidak. Tidak...

Tapi akhirnya aku menangis juga.

Hari ini, aku—Anugrah Mahardhika, jatuh untuk kedua kalinya.


Minggu, 02 Februari 2014

First Post: Rawi Enes

Ehem. My first time to make a post in this blog. I don't know how to be a blogger, actually. But I'll try


Buat pertama kali ini, aku ga tau mo ngepos apa. Aku ga tau gimana caranya masukin gambar, masukin link, dll. Anyone? :|

Yasuda, akhirnya aku memutuskan buat ngepos cerpen tugas Bahasa Indonesia aja, heheh.
Judulnya Rawi Enes. Rada rada abstrak gimana gitu :| enjoy :|
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Butir pasir melesak
Memenuhi sela jari kaki

Bentang tangan melebar
Sapa angin, sapa rindu
Jauh terlihat cakrawala mengerling
Menggoda, menusuk jiwa....


            Sore ini aku merasakan matahari tenggelam lebih cepat dari biasanya. Sinar jingganya membanjiri wajahku yang tersenyum. Sangat menentramkan.
Aku berlari-lari dalam kejaran ombak yang menyapu pantai. Bermain pasir, bermain air, bermandi cahaya. Hanya sendiri, disini. Ada kalanya aku menginginkan seorang teman untuk kuajak bercengkrama tentang indahnya tempat ini. Tapi aku tidak sudi ada orang lain yang menapakkan kakinya di kerajaanku satu satunya ini.
Disini senja berlangsung sangat lama, karena aku menginginkan untuk terjadi demikian. Ini kerajaanku, aku bebas menentukan apa saja yang akan terjadi disini. Aku tak sudi malam turun dengan cepat, menggantikan jingga kesayanganku. Menyeruakkan hadirnya dewi purnama yang telah menjatuhkan dewa suryaku. Aku tak suka.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada disini. Pun tidak aku tahu siapa diriku sebenarnya. Aku menamai diriku “Dewi Rawi Enes”, yang berarti Dewi Matahari. Dewi yang sendiri.

Rawi Enes kang jejulukan Gardapati
Lelampahan ing indurasmi

Darun ing udaka
Inggil ing cipta
Reruntuhanipun saya cedak
Ing jiwa awang-awang


            Kejatuhanku sudah dekat. Aku merasa tidak akan lama lagi berada disini. Ketenanganku terusik. Banyak goncangan yang sudah kurasakan. Duniaku akan runtuh.
            Memikirkan bahwa duniaku akan runtuh membuatku marah. Marah sejadi-jadinya. Apa yang kau inginkan, hah?! Aku penguasa disini, dan kau tak berhak mengambil apa yang menjadi satu satunya milikku!
            Secara spontan, aku berlari-lari dan menendang pasir pasir yang membentang dihadapanku dengan emosi tinggi. Saat emosiku sudah mencapai puncaknya, tiba tiba aku mendengar suara. Suara itu berasal dari langit, tepat diatas bumi yang kupijak. Suara itu menenangkanku. Suara itu mengajakku untuk kembali.
            Kembali? Kembali kemana? Bukankah ini tempat dimana aku berasal?
            Aku menelengkan kepala, terheran-heran. Tetapi suara itu terus saja memanggilku. Tak sadar, ada seberkas cahaya terang yang menyobek indahnya jinggaku sore ini. Aku berjalan ke arahnya, dan secara perlahan, duniaku mulai kabur. Menghilang.
            Kini aku tidak lagi berada di duniaku. Kulihat seorang disana, berbalut masker dan jubah hijau. Aku sedang berbaring, dengan banyak selang memenuhi tubuhku.

Dewi Rawi Enes
Membiru dalam asa

Melebur dalam rasa
Sentuh sukma
Melayang pandang
Berpulang pada Esa

------------------------------------------------------------------------------------------------------------